Rabu, 14 Januari 2015

Saat Membaca Buku Pahamilah Proses Membuatnya



Oleh Ngainun Naim

Sebagian orang melihat sebuah buku hanya sebagai produk. Padahal, proses terbitnya sebuah buku itu penuh perjuangan. Ada perjalanan panjang yang melelahkan sejak menemukan ide, menyusun konsep outline, mencari referensi, menuliskan bagian demi bagian, mengedit, mengirimkan ke penerbit sampai akhirnya terbit menjadi buku yang bisa dibaca oleh masyarakat luas.
Ini pengalaman saya. Orang lain mungkin memiliki pengalaman lain yang berbeda. Misalnya, mulai menemukan ide sampai menulisnya mudah-mudah saja. Semuanya lancar-lancar saja tanpa hambatan yang berarti.
Membuat buku itu perjuangan bagi saya karena beberapa sebab. Pertama, saya tidak pernah mengenyam bangku pendidikan menulis. Selama kuliah saya tidak pernah mendapatkan matakuliah yang berhubungan dengan menulis. Memang ada satu dua dosen yang menyinggung persoalan menulis, tetapi itu biasanya muncul dalam dialog-dialog di kelas. Karena itu, untuk menguasai keterampilan menulis saya harus berjuang keras.
Kedua, saya tidak memiliki teman yang membimbing dan mengarahkan saya secara terstruktur, sistematis, metodologis dan aplikatif tentang bagaimana menulis buku. Semuanya mengalir secara alamiah dengan belajar dari buku, dari dialog, dari membaca di internet dan dari sumber-sumber yang lainnya.
Memang, saat awal menekuni menulis saya memiliki beberapa teman yang berproses bersama. Mereka—beberapa nama yang bisa kusebut—adalah Khoirudin Abbas (Mantan anggota DPRD I Jawa Timur) dan Kholilul Rohman Ahmad (kini Staf Ahli DPR RI di Jakarta). Sejauh yang saya ketahui, kedua sobat saya itu sekarang sudah tidak menulis lagi. Mungkin menulis memang kurang menarik lagi bagi keduanya.
Ada faktor lain—sebagai faktor ketiga—yang juga cukup berpengaruh terhadap beratnya proses menghasilkan buku, yaitu tempat tinggal. Sehari-hari saya bekerja sebagai tenaga pengajar sebuah PTAIN di Tulungagung. Tulungagung—juga Trenggalek di mana sekarang ini saya tinggal—adalah kota-kota kecil dengan dinamika intelektual yang—mohon maaf—”rendah”. Jarang sekali ada kegiatan ilmiah yang menarik perhatian publik.
Dunia pendidikan secara umum juga tidak seberapa dinamis mendiskusikan bidang-bidang keilmuan secara diskursif. Suasana akademis yang semacam itu menjadikan intuisi menulis tidak selalu tajam. Bahkan jika belum memiliki kesadaran bahwa menulis itu penting, mungkin lebih baik tidak menulis.  Menulis baru dilakukan jika berkaitan dengan kepentingan-kepentingan tertentu, seperti untuk kenaikan pangkat.
Faktor keempat adalah akses buku. Saya kira faktor ini berkaitan dengan faktor ketiga, walaupun mungkin keterkaitannya tidak terlalu erat. Sampai hari ini Tulungagung belum memiliki toko buku yang representatif dalam menghadirkan bahan bacaan bermutu sesuai keperluan masyarakat. Memang kini sudah ada Togamas dan Salemba, tetapi koleksi bukunya masih perlu ditingkatkan lagi.
Kondisi yang semacam itu membuat dinamika persebaran ilmu juga kurang dinamis. Coba Anda simak kota-kota besar lain di Indonesia di mana pusat-pusat buku bertebaran hingga gang-gang kecil. Kondisi ini memudahkan persebaran ilmu pengetahuan.
Jika dibuat daftar hambatan, jumlahnya bisa lebih banyak lagi. Tetapi saya tidak mau terjebak pada hambatan. Dua tulisan sebelum ini saya maksudkan sebagai bagian dari titik pijak untuk membangun optimisme. Keterbatasan bukan halangan untuk menulis, khususnya menulis buku. Jika kita terus menulis, Insyaallah menerbitkannya hanya persoalan waktu.
Pasti terbit? Belum tentu. Jangan pernah bermimpi semua karya yang sekarang kita nikmati itu proses terbitnya sederhana dan mudah. Ada yang ditolak berkali-kali oleh penerbit, baru bisa terbit. Konon novel spektakuler Harry Potter ditolak berpuluh-puluh kali sebelum akhirnya terbit. Prinsipnya adalah terus mencoba menawarkan naskah ke penerbit.
Berkali-kali ditolak itu biasa. Menurut saya, tugas penulis itu ya menulis. Maksudnya, walaupun terus ditolak oleh redaksi koran atau penerbit, jangan menyerah. Teruslah menulis. Bahkan saat sudah terbit pun bukan berarti selalu sesuai harapan. Beberapa penerbit ada yang bahkan tidak pernah memberikan laporan penjualan sama sekali.
Persoalan demi persoalan seharusnya tidak menyurutkan langkah kita untuk menekuni dunia menulis. Sesungguhnya persoalan dan hambatan itu selalu ada di semua lini kehidupan. Tugas kita bukan menolak hambatan dan halangan, tetapi bagaimana menghadapi dan menakhlukkannya. Melalui cara semacam inilah maka kita akan semakin tangguh.
Sebuah buku yang kita baca hakikatnya adalah akumulasi perjuangan penulisnya. Ada kesulitan ide, ada kesulitan membangun susunan isi, dan seterusnya. Karena itulah kalau seorang teman menerbitkan buku akan lebih baik jika diapresiasi dengan membeli karyanya. Bukan maksud saya sok material. Sama sekali bukan. Tetapi lebih sebagai bentuk penghargaan kita atas perjuangannya menghasilkan buku.

Parakan Trenggalek, 9-11 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar