Rabu, 03 Desember 2014

Potret Mental Manusia Indonesia



Judul Buku: Menjadi Pemenang atau Penumpang (Pergulatan Mental Manusia Indonesia)
Penulis: Ainna Amalia FN
Edisi: Nopember 2014
Tebal: 181 halaman
 
Buku karya Ainna Amalia FN
Mental dan moral menjadi kunci utama eksistensi sebuah bangsa. Perpaduan mental dan moral yang positif menjadi kunci penting untuk mengantarkan sebuah bangsa menuju kemajuan. Sementara bangsa yang masih harus bergulat dengan problem mental dan moral akan terus berdialektika dan sibuk menyelesaikan persoalan internalnya yang semakin hari semakin kompleks. Titik tekan konsentrasinya bukan pada bagaimana meraih kemajuan melainkan pada bagaimana mengatasi persoalan demi persoalan yang ada di sekitar.
Indonesia tampaknya masih sibuk dengan dialektika mental-moral yang terus berjuang antara kutub positif dan negatif. Kutub positif masih harus bertarung di semua lini kehidupan dengan kutub negatif. Energi untuk bertarung inilah yang menjadikan bangsa ini belum bisa bergerak cepat menjadi bangsa yang maju.
Buku karya dosen muda psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga kolomnis di Jawa Pos dan Kompas ini menemukan relevansinya dalam konteks pembahasan mental dan moral. ”Kajian mental ini menjadi sangat penting, karena Indonesia saat ini menghadapi berbagai masalah yang pelik”, tulis K.H. Sholahuddin Wahid dalam kata pengantar. Menyimak tulisan demi tulisan dalam buku ini akan terlihat bagaimana penulisnya mampu memetakan secara jeli persoalan mental yang dihadapi oleh bangsa ini.
Tulisan pertama dari 40 tulisan di buku ini semakin mempertegas signifikansi persoalan mental ini. Tulisan yang berjudul Akademikus Mental Penumpang mengulas tentang fenomena mental di kalangan akademikus. Meminjam kategori Rhenald Kasali, Ainna Amalia FM membagi akademikus menjadi dua; passengers (penumpang) dan drivers (pengemudi). Akademikus penumpang bermental instan. Mereka tidak peduli proses. Mereka inilah yang justru menjadi benalu dan merusak mental bangsa. Mereka menjadi pendidik yang dalam perilakunya justru bertolak belakang dengan apa yang mereka ajarkan. Sementara akademikus pengemudi adalah akademikus jujur yang memelihara nilai-nilai moral, nilai proses dan mempertahankan mental positif. Akademikus jenis inilah yang seharusnya mendapatkan perhatian karena mereka yang menjaga mental bangsa ini selalu dalam kondisi yang lebih baik.
Problem mental terjadi tidak hanya di dunia pendidikan, tetapi telah merambah hampir semua bidang kehidupan; ekonomi, budaya, politik, keluarga, hingga agama. Secara jeli Ainna Amalia FN memotret persoalan demi persoalan dari persoalan mental yang menjangkiti berbagai lini kehidupan tersebut. Sudut pandang psikologi dan agama menjadikan setiap ulasan dalam buku ini terasa menyentuh ke kesadaran psikologis setiap pembacanya. Sebagaimana bisa disimak dari setiap kolom yang ditulisnya di koran, tulisan dalam buku ini mampu menyuguhkan realitas yang rumit dalam bingkai yang sederhana dan mudah dicerna.
Ulasan dalam buku ini juga tidak terjatuh pada pesimisme. Persoalan memang banyak, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Justru di sinilah sisi menarik buku ini. Setiap persoalan yang dibahas selalu dicarikan perspektif penyelesaiannya.
Sebagai kumpulan artikel yang dimuat di berbagai media massa, buku ini memang kurang fokus. Sebagaimana karakteristik buku sejenis, topik yang dibahas memang cukup luas. Selain itu, sistematika yang digunakan juga cukup longgar sehingga pembaca diajak untuk meloncat dari satu topik ke topik yang lain. Memang, antara satu topik dengan topik yang lain ada benang merah yang menghubungkan. Tetapi tetap saja kondisinya berbeda jika dibandingkan dengan sebuah buku yang sejak awal memang didesain sebagai sebuah buku utuh.
Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya sangat mengapresiasi terhadap kehadiran buku ini. Buku ini adalah rekaman pemikiran penulisnya atas mozaik yang terserak dari beragam fenomena yang berhasil ditangkap. Sebuah karya tulis yang dibukukan, bagi saya, merupakan ikhtiar berharga penulisnya yang memiliki makna penting dalam jejak sejarah peradaban. Dunia buku, apa pun bentuknya, harus terus ditumbuhkembangkan agar bangsa ini semakin maju. Dan penulis buku ini telah memberikan kontribusi pentingnya dalam kerangka kemajuan yang semacam itu.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada penulis buku ini yang telah ”bersedekah ilmiah”—istilah Prof. Koentjoro pada bagian endorsment—karena hanya sedikit akademisi yang mau meluangkan waktunya untuk menulis. Saya kira kalau penulis buku ini terus menjaga ritme menulisnya maka akan semakin banyak karya yang dihasilkan. Sebagaimana dikatakan penulis buku ini pada bagian pengantar, ”Untuk bermental juara butuh proses panjang yang tak selalu mudah”. Sebagaimana ilmuwan yang secara bersemangat menyerukan pentingnya mental juara, penulis buku ini akan mampu menunjukkan mental juara di karya-karya selanjutnya. Semoga.

IAIN Tulungagung, 3 Desember 2014
Ngainun Naim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar