Minggu, 21 Desember 2014

Jauhkan Saja Generasi Mudanya dari Buku



Oleh Ngainun Naim
 
Brosur bedah buku
Saya agak terkejut ketika awal Desember kemarin Mas Ahmad Fauzan—dosen muda IAIN Tulungagung dan juga aktivis Taman Baca Masyarakat—datang ke ruang saya. Setelah berbasa-basi Mas Fauzan menyampaikan bahwa saya diminta untuk menjadi pembedah dari buku yang ditulis oleh Muhsin Kalida, M.A dan Muh. Mursyid. Judul bukunya sangat menarik, yaitu Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. Buku ini baru saja terbit pada awal bulan Desember oleh Cakruk Publishing Yogyakarta bekerja sama dengan Aswaja Pressindo.
Bagi saya, ini merupakan sebuah kehormatan. Sebagai orang yang mencintai dunia literasi, saya menyambut hangat tawaran Mas Fauzan. Secara personal saya juga sudah cukup akrab dengan Muhsin Kalida, MA sehingga kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya sambut hangat tawaran Mas Fauzan untuk menjadi seorang pembanding.
Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 10 Desember, Mas Fauzan datang lagi. Kali ini dia membawa buku Gerakan Literasi yang masih dibungkus plastik. Buku ini jatah buat saya yang menjadi pembedah. Saya pun menerima dengan penuh kegembiraan.
Segera buku ini saya baca secara ”ngemil”, yakni pelan-pelan dan sedikit demi sedikit. Beberapa bagian yang penting saya catat untuk kemudian saya pindahkan ke komputer. Cara semacam ini, menurut pengalaman saya, cukup menguntungkan karena bisa bermanfaat untuk aktivitas menulis selanjutnya.
Tepat hari minggu tanggal 20 Desember 2014, acara bedah buku dilaksanakan. Acara cukup meriah. Saat pembukaan, beberapa pejabat datang. Bupati diwakili dari Kesbanglinmas, ada Kepala Perpusda beserta dua stafnya, ada perwakilan Dikdasmen, ada perwakilan Kemenag, dan juga Pengurus Cabang NU Tulungagung. Lengkap dan cukup meriah.
Acara dimoderatori oleh M. Najib Yuliantoro. Mantan aktivis IPNU Ancab Ngunut Tulungagung yang merupakan alumni S-2 sebuah perguruan tinggi di Belgia ini berhasil membawa suasana bedah buku terasa hidup dan bersemangat. Antuasiasme peserta terlihat dari wajah-wajah mereka. Saat awal, Kepala Perpusda, Drs. Ali Murtadhi, M.Si memberikan uraian tentang apa itu perpustakaan, perannya, dan juga strategi membaca yang efektif. ”Seluruh peserta yang hadir di acara ini saya gratiskan untuk daftar menjadi anggota perpustakaan daerah”, papar Ali. Tentu saja, tawaran ini disambut tepuk tangan dan antusiasme peserta bedah buku.
Saya, Muhsin Kalida, dan M. Najib Yuliantoro

Seusai Pak Ali, Muhsin Kalida selaku penulis buku menyampaikan orasi. Muhsin Kalida bukan hanya seorang penulis, melainkan juga dosen, motivator, enterpreneur, dan aktivis berbagai bidang. Karena itu, saat memaparkan bukunya sangat memukai. Secara santai ia mampu berdialektika secara intensif dengan peserta. Cara semacam ini memungkinkan ia memiliki hubungan emosional yang baik dengan peserta. Secara substansi Muhsin menekankan tiga hal sebagai kunci literasi, yaitu; membaca, menulis, dan menerbitkan karya.
Seusai Muhsin Kalida, giliran saya yang didaulat sebagai pembanding. Saya sampaikan bahwa buku yang ditulis Muhsin Kalida dan Muh Mursyid ini merupakan sebuah buku luar biasa. Judulnya saja “Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri”. Setelah membaca buku tersebut saya menyimpulkan bahwa buku yang bersampul pohon yang tumbuh di atas lembaran buku tersebut kaya ilmu, kaya warna, kaya perspektif, dan kaya pengalaman. Selain itu, buku tersebut ditulis oleh orang yang memang bergerak secara intensif dalam dunia literasi. Karena itu, buku ini tidak hanya berbicara secara teori tetapi juga berisi pengalaman praktis berliterasi.
Lebih lanjut saya jelaskan bahwa membaca sebagai bagian dari aktivitas berliterasi memiliki beberapa manfaat, di antaranya;
Ø  Pondasi awal meningkatkan kecerdasan otak.
Ø  Cara paling efektif menjawab rasa ingin tahu.
Ø  Meluaskan cakrawala.
Ø  Jendela perubahan hidup.
Ø  Menjadikan diri senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Ø  Sangat menguntungkan otak.
Ø  Mengubah paradigma.
Ø  Menjadi diri sendiri.
Ø  Batu loncatan keberhasilan di sekolah dan kehidupan di masyarakat.
Ø  Nutrisi jiwa.
Ø  Meningkatkan kecerdasan.
Ø  Jendela dunia.
Ø  Mengembangkan kreativitas.
Ø  Menguatkan kepribadian.
Selain membaca, saya juga mengulas tentang menulis dan menerbitkan karya sebagai bagian dari kegiatan literasi. Paparan ini saya harapkan memberikan manfaat bagi tumbuhkan semangat membaca, menulis, dan menerbitkan karya di kalangan peserta yang hampir semuanya merupakan generasi muda tersebut. saya berharap agar acara yang diselenggarakan Forum TBM Tulungagung dan IPNU-IPPNU Tulungagung tersebut dapat memberikan semangat baru berliterasi di Tulungagung.
Sebagai penutup ada kutipan penting dari buku Muhsin Kalida ini yang penting untuk dijadikan sebagai bahan renungan, yaitu: ” Zaman dulu untuk menghancurkan suatu bangsa dengan membumi hanguskan perpustakaan, sekarang dengan dengan strategi agar masyarakat meninggalkan buku”. Jadi mari dekatkan generasi muda dengan dunia buku agar peradaban kita semakin maju.
Salam literasi.
Ini catatanku, mana catatanmu?

Trenggalek, 20-12-2014

4 komentar:

  1. judul buku yang di bedahnya sangat fenomenal Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri, sayang bagi orang desa buku masih jadi bagian yang ekslusif, buku hanya untuk kaumintelek dan orang kota, bagi orang desa apa yang disampaikan betapa bermanfaatnya aktivitas berliterasi sebagai jendela dunia sangat jauh untuk dapat di jangkau, selain harga buku yang taklah bisa di jangkau, waktu yang dimiliki orang desa untuk membaca buku, akan membuat keluarga berantakan...kapan nyari duitnya begitu kira-kira kalimat keluarga...saya anak desa pak...:D
    salam sehat dan ceria selalu pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Cilembu thea@ terima kasih banyak atas apresiasinya. Memang benar, tradisi literasi masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Justru karena itulah diperlukan usaha secara terus-menerus agar mereka semakin dekat dengan buku. Ada banyak cara yang bisa ditempuh. Salah satunya melalui mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM). Buku yang dibedah banyak membahas hal-ihwal TBM.
      Salam kembali Mas.

      Hapus
  2. Sebelum ini, saya sudah salut dengan aktivitas Cakruk. Setelah membaca tulisan panjenengan ini, saya semakin termotivasi dengan apa yang panjenengan sampaikan, Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ustadz. Cakruk memang memberikan manfaat dalam menumbuhkembangkan budaya literasi. Terima kasih telah berkenan berkunjung. Salam.

      Hapus