Sabtu, 01 November 2014

Kunci-kunci Penting Meraih Kebahagiaan



Judul Buku: Menemukan Bahagia, Mengarifi Kehidupan Menuju Rida Tuhan
Penulis: M. Husnaini
Penerbit: Quanta Jakarta
Edisi: 2013
Tebal: xvii+141 halaman
Peresensi: Ngainun Naim





Semua manusia ingin hidup bahagia. Bahagia bahkan menjadi tujuan hidup. Segala hal dilakukan dalam rangka menemukan bahagia. Tetapi ternyata bahagia itu tidak sederhana. Ukuran bahagia antara satu orang dengan orang yang lainnya berbeda. Begitu juga dengan cara mewujudkannya.
Persoalan bahagia adalah adalah personal universal dan perenial. Disebut universal karena terjadi di seluruh dunia tanpa membedakan agama, bangsa, suku, etnis, dan seterusnya. Disebut perenial karena ia berlangsung abadi sepanjang sejarah manusia, sejak zaman Nabi Adam sampai nanti di akhir zaman.
Karena itulah maka pembahasan tentang bahagia selalu aktual. Sesungguhnya sudah banyak buku yang menulis tentang bahagia ini, tetapi setiap buku yang bertema bahagia selalu menghadirkan hal baru yang penting untuk dibaca. Dalam kerangka inilah buku karya M. Husnaini ini penting diposisikan.
Buku ini menarik karena menyajikan berbagai kunci penting untuk meraih bahagia. Husnaini memang tidak membuat kunci-kunci tersebut secara sistematis, tetapi jika kita membacanya secara detail, ia menguraikan kunci-kunci tersebut di beberapa bagian dalam buku ini.
Berdasarkan pembacaan yang saya lakukan, ada beberapa kunci yang penting untuk menemukan bahagia yang diulas Husnaini. Pertama, ibadah. Bahagia itu persoalan batin. Bahagia akan datang pada orang yang melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Menurut Husnaini, ibadah itu memiliki energi besar, yaitu mengurangi ketidakseimbangan ekologis, ketimpangan nilai-nilai, dan mengutuhkan kembali bangunan ciptaan Allah yang selama ini kita rusak. Ibadah itu menyelamatkan tanpa kita tahu bahwa ia menyelamatkan. Energi ibadah itu berupa berkah; suatu energi besar yang muncul secara gaib dan tidak bisa dijelaskan kecuali dengan penjelasan supranatural (h. 20).
Kedua, sederhana. Orang bahagia itu hidupnya tidak mewah. Ia hidup secara apa adanya. Orang yang kehilangan kesederhanaan akan menyebabkan hilangnya kebahagiaan. Hilangnya kesederhanaan menyebabkan kita ingin meraih segala sesuatu secara instan. Yang muncul adalah sejuta keinginan yang tak kunjung redam. Ini mengganggu kebahagiaan. Sederhana menyebabkan kita menikmati setiap proses sehingga bisa membuat kita bahagia.
Ketiga, Menahan Diri. Bahagia itu tidak datang dengan tiba-tiba. Bahagia itu merupakan hasil dari kemampuan menahan diri dalam makna yang luas. Sepintas menahan diri itu menyengsarakan, tetapi jika dicermati justru kemampuan menahan diri itu adalah bagian dari dinamika hidup untuk meraih bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang diperoleh dari dimensi material, apalagi melalui jalan yang tidak benar, tidak akan bertahan lama. Bahkan sangat mungkin kemudian berganti dengan duka lara.
Keempat, dekat dengan al-Qur’an. Umat Islam yang shaleh semestinya mendekatkan dirinya dengan al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci, pedoman hidup, dan pusat orientasi hidup. Mendekatkan diri dengan al-Qur’an bisa dilakukan dengan rajin membacanya setiap hari. Hal ini penting untuk ditekankan karena dengan rajin membaca—apalagi mengkajinya secara rutin—maka hidup kita akan penuh dengan keberkahan. Keberkahan inilah yang akan mengantarkan kita kepada hidup bahagia.
Kelima, bermanfaat bagi sesama. Manusia itu merupakan makhluk sosial. Keberadaannya harus memberikan manfaat positif bagi lingkungannya. Kemanfaatan bagi sesama merupakan kiat kunci meraih bahagia. Manusia yang tidak memberikan kontribusi bagi lingkungannya tidak akan dapat merasakan kebahagiaan yang sejati.
Keenam, bekerja secara tulus. Bekerja itu merupakan kebutuhan dasar manusia. Bekerja seyogyanya dilakukan dengan penuh ketulusan. Bekerja yang dilakukan secara tulus akan memancarkan energi bahagia kepada pelakunya. Hal inilah yang menjadikan bekerja dilakukan tanpa beban. Semuanya terasa membahagiakan karena nilai ketulusan yang mengiringi.
Ada banyak lagi kunci-kunci bahagia yang ditulis dalam buku dengan sampul dan isi yang menarik ini. Membaca buku ini akan mengantarkan kita kepada pengetahuan reflektif atas fenomena yang sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Melalui buku ini kita disadarkan untuk menelisik dimensi-dimensi intrinsik dalam kehidupan yang kerap terabaikan.
Buku karya M. Husnaini ini ditulis secara sederhana. Bahasanya renyah mengalir. Membaca buku ini seolah mengajak kita bertamasya ke sebuah dunia imajinasi yang penuh dengan motivasi. Husnaini mampu mengolah fenomena sehari-hari dengan bahasa yang begitu memikat.
Aspek yang saya sukai dari buku ini adalah dimuatnya kisah-kisah untuk memperkuat isi tulisan. Kisah-kisah pendukung semacam ini, menurut saya, memiliki nilai penting untuk mengukuhkan dan menggali nilai moral. Melalui kisah semacam ini kita disadarkan terhadap berbagai pelajaran berharga dalam kehidupan ini.
Buku ini laksana cermin bagi kita. Melalui buku ini kita bisa melihat seperti apa kondisi kita sekarang ini. Setiap bagiannya berisi refleksi tentang berbagai hal yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Membaca buku ini memberikan motivasi dan daya dorong untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari. Semoga.

Tulungagung, 1 November 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar