Kamis, 30 Oktober 2014

Ayo Membuat Blog



Oleh Ngainun Naim


Ada sebuah buku menarik karya Wisnubroto Widarso. Judulnya Kiat Hidup Sukses. Buku mungil ini cukup laris. Indikasinya sederhana, yaitu buku yang saya miliki merupakan cetakan kelima terbitan tahun 2000. Asumsi saya buku ini mungkin saja cetak lebih dari lima kali.
Ada satu bagian yang menarik, yaitu di bab ketujuh, ”Kuasailah Keterampilan Berkomunikasi”. Pada paragraf awal, Wisnubroto menulis, ”Salah satu sarana untuk dapat membina persahabatan yang sejati, persahabatan yang dilandasi prinsip AKU-ENGKAU dan dengan demikian saling mengembangkan kepribadian, adalah keterampilan berkomunikasi”.
Mungkin kalimat Wisnubroto ini terkesan normatif. Siapa pun tahu bahwa berkomunikasi itu merupakan keterampilan penting yang seharusnya dikuasai agar persahabatan menjadi langgeng. Tentu sangat disayangkan jika persahabatan rusak karena komunikasi yang tidak lancar. Padahal, komunikasi itu bisa dipelajari. Komunikasi merupakan keterampilan yang bisa diasah dan dikembangkan secara terus-menerus.
Komunikasi banyak bentuknya. Salah satunya adalah komunikasi tertulis. Komunikasi tertulis memiliki banyak kelebihan, di antaranya lebih awet dan dapat menjangkau pembaca secara luas. Komunikasi jenis ini penting ditumbuhkembangkan, khususnya di kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki keterampilan menulis lebih memiliki peluang untuk sukses kuliah.
Kok bisa? Ya, menguasai keterampilan menulis itu merupakan salah satu kunci sukses kuliah. Asumsinya sederhana, yakni sebagian besar perkuliahan mengharuskan mahasiswa untuk menulis. Membuat makalah misalnya, menjadi tugas pokok yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Jika seorang mahasiswa tidak memiliki keterampilan menulis maka dia akan menghadapi hambatan dalam mengikuti perkuliahan. Padahal, sepanjang proses perkuliahan, membuat makalah menjadi tugas yang nyaris selalu ada.
Keterampilan menulis ini semakin diperlukan saat seorang mahasiswa harus membuat tugas akhir kuliah, yaitu skripsi. Skripsi, selain merupakan penelitian, juga merupakan ujian keterampilan menulis. Mahasiswa yang telah memiliki keterampilan menulis secara baik akan memiliki peluang besar untuk menyelesaikan tugas akhirnya secara baik. Sebaliknya jika tidak memiliki keterampilan menulis secara baik maka ada kemungkinan skripsinya menghadapi hambatan untuk diselesaikan. Tidak sedikit mahasiswa yang pengetahuannya luas tetapi terhambat lulus karena kelemahan dalam menulis skripsi.
Dalam kerangka mengasah keterampilan menulis ini, saya mendorong kepada mahasiswa yang saya ajar untuk membuat blog. Kok blog? Saya berpikir blog merupakan media sederhana yang dapat menampung apa pun yang ada dalam pikiran kita. Blog bisa diisi apa saja, mulai dari pemikiran, catatan perjalanan, pengetahuan yang diperoleh dari membaca buku, refleksi hidup, atau hal-hal lain yang sederhana. Dengan memiliki blog, keterampilan menulis dapat diasah.
Membuat blog sesungguhnya tidak terlalu rumit, tinggal kemauan untuk membuat saja. Jika ada kesulitan untuk membuat blog, teman-teman mahasiswa saya anjurkan untuk bekerja sama dengan teman lain yang sudah bisa membuat blog. Kerja sama ini memungkinkan seorang mahasiswa memiliki alamat blog.
Persoalan yang jauh lebih penting setelah membuat blog adalah mengisinya. Mengisi blog itu membutuhkan konsistensi. Menulis kadang-kadang memang tidak mudah. Bagi penulis pemula, persoalan ”mau menulis apa” biasanya yang menjadi persoalan pokok. Bagaimana mengatasinya? Sejauh yang saya tahu, tidak ada formula taktis-praktis-aplikatif yang bisa digunakan selain dengan berlatih dan terus berlatih. Melalui cara semacam ini diharapkan kebiasaan menulis akan tumbuh.
Kesulitan menulis biasanya disebabkan karena ”jam terbang” menulis yang belum tinggi. Membuat blog merupakan sarana bagi mahasiswa untuk memiliki ”jam terbang”. Semakin sering blog diisi maka mahasiswa akan semakin terlatih menulis. Mahasiswa yang terlatih menulis akan semakin mudah menundukkan hambatan dalam menulis. Dan blog adalah sarana yang tepat untuk tujuan tersebut. Jadi, ayo membuat blog dan mengisinya secara rutin.

Tulungagung, 30 Oktober 2014
Ngainun Naim

2 komentar:

  1. Insyallah Ustad. Bismillah belajar istiqomah meskipun tulisan yang di posting di blog, tidak jarang menimbulkan "rasa pening" ketika dibaca lagi..lagi..dan lagi . Hehehe. Kesalahannya mungkin terletak pada "revising dan editing". Hehe
    Terimakasih atas dorongannya utk menulis Ustad. Spekta!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika sering menulis maka "rasa pening" itu akan hilang dengan sendirinya. Nikmati saja proses menulisnya. Salam!

      Hapus