Rabu, 05 Juni 2013

URIP MUNG MAMPIR NGGUYU


Oleh Ngainun Naim

Tulisan ini saya buat sekitar 2 tahun lalu. Juga pernah saya up load  di FB. Secara tidak sengaja, tadi malam saya membuka file-file tulisan lama dan menemukan tulisan ini. Saya baca secara cermat tulisan ini. Saya perbaiki beberapa bagian yang kurang relevan. Demi kepentingan berbagi, saya suguhkan kembali kepada pembaca sekalian, dan semoga ada manfaatnya.
-----
Apa yang ada dalam benak Anda saat membaca judul di atas? Mungkin Anda langsung senyum, atau bahkan ngguyu. Kalimat di atas memang kurang umum, sebab yang umumnya kita kenal adalah ”urip mung mampir ngombe”. Kalimat ini biasanya sering kita dengar dalam forum-forum pengajian, atau perbincangan sehari-hari dalam masyarakat. Menurut saya, kalimat ”urip mung mampir ngombe” sarat dengan kandungan filosofis dan kearifan hidup. Beberapa hal yang dapat ditarik sebagai pelajaran adalah: pertama, hidup manusia di dunia ini sesungguhnya singkat. Tidak ada kehidupan yang abadi. Semuanya pasti akan berakhir. Perjalanan waktu berjalan begitu singkat. Coba Anda renungkan perjalanan hidup Anda: segalanya ternyata berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin, ternyata sekarang sudah jadi orang tua. Rasanya belum terlalu lama menikah, ternyata anak-anak sudah besar. Rasanya baru kemarin tamat SMA, kok ternyata sudah lama sekali. Ya, ”rasanya baru kemarin” adalah refleksi cepatnya kehidupan berjalan–yang kadang—tanpa  kita sadari.
Kedua, karena hidup itu singkat maka harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu sedemikian berharga. Ia tidak terbeli, tidak terulang, dan terus berjalan. Maka, seharusnya waktu yang ada dipergunakan sebaik-baiknya untuk hal-hal positif dalam hidup ini. Filosofi signifikansi waktu inilah yang kemudian melahirkan berbagai kata bijak, seperti ”Time is money=waktu adalah uang”, ”Al-waktu kas-Syaif=waktu ibarat pedang”, dan sebagainya. Pentingnya waktu ini biasanya akan terasa pada saat tertentu. Misalnya, saat keberangkatan pesawat terbang, saat mengerjakan ujian, dan saat-saat penting lainnya. Sementara di saat yang lain, waktu seolah tidak banyak artinya.
Pentingnya waktu ini mengingatkan saya pada banyak kisah heroik orang-orang sukses. Saya pernah membaca pengantar panjang dari kumpulan resensi buku Jihad Ilmiah: Dari Termas Menuju Harvard yang merupakan buku karya Prof. Kyai Yudian W. Asmin, Ph.D. Dalam pengantar buku kumpulan resensi tersebut Prof. Yudian menyatakan bahwa kesuksesan yang diraihnya sekarang ini adalah buah kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ia melakukan itu semua karena memegang filosofi ”Selamat Datang Kematian”. Filosofi tersebut ditanamkan pada dirinya bahwa sebelum kematian menjemput, ia akan memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya untuk pengembangan ilmu.
Tentu banyak lagi kisah-kisah heroik mengenai pemanfaatan waktu ini. Kisah-kisah kiai besar yang saat belajar di pesantren belajar keras hingga teman-temannya tidak mengetahui bagaimana ia belajar, atau kisah pengusaha sukses yang memanfaatkan waktunya sedetail mungkin, dan sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa waktu itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, perubahan itu merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan.walaupun hidup ini ibarat ”mampir ngombe”, tetapi kata ”ngombe” itu sendiri tidak hanya bermakna sebagai aktivitas fisik. Ia, menurut saya, lebih sebagai simbol yang sarat kandungan filosofis. Setelah minum—dalam makna simbolik—kita tidak akan mengalami kehausan atau dehidrasi. Energi hidup kita bertambah. Karena itu, ”ngombe” sesungguhnya adalah sesuatu yang bisa memberi nilai lebih pada diri kita; bisa lewat belajar, menyerap kearifan hidup, menggali potensi diri, dan sebagainya.
Lalu bagaimana dengan ”urip mung mampir ngguyu?”. Kalimat ini ternyata bukan hanya guyonan. Kalimat ini serius sebagaimana kalimat ”urip mung mampir ngombe”. Di dalamnya juga terkandung makna filosofis mendalam. Saya mendengar kalimat ini saat menonton acara Satu Jam Lebih Dekat dengan Butet Kertarajasa di TV One pada Rabo malam (23/6/2011) jam 11 hingga 12 malam. Di akhir sesi, saat Indriarto Priadi—pembawa acara—bertanya kepada menantu Butet mengenai apa yang khas dari keluarga mertuanya, dijawab bahwa filosofi hidup keluarga mertuanya adalah ”urip mung mampir ngguyu”.
Saya tersentak, kaget, lalu tersenyum. Bagi saya, ini merupakan filosofi yang menarik dan berani. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dipetik. Pertama, filosofi itu mengajarkan bagaimana menghadapi hidup selalu penuh dengan keceriaan. Semua orang yang hidup pasti akan menghadapi masalah. Jangan pernah mimpi hidup ini tidak punya masalah. Hanya orang yang telah mati saja yang tidak punya masalah—setidaknya dalam pandangan kita yang hidup. Justru karena ada masalah itulah hidup kita tumbuh dan berkembang. Kemampuan menghadapi masalah dan menyelesaikannya merupakan cermin eksistensi diri kita. Kalau kita mampu memecahkan setiap masalah, sesungguhnya kita sudah belajar banyak hal. Nah, cara menghadapi masalah dengan penuh keceriaan, alias dengan ”ngguyu” itulah yang menjadikan masalah seberat apa pun dapat dihadapi dengan ringan.
Kedua, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai counter terhadap gaya hidup manusia sekarang ini yang sarat dengan kompetisi, intrik, dan selalu penuh ketegangan. Maka, kita menyaksikan betapa terasa semakin beratnya hidup sekarang ini. Jumlah orang stress meningkat tajam. Demikian juga dengan orang yang bunuh diri, melakukan kejahatan, mengkonsumsi narkoba, dugem, dan sebagainya. Semua itu cermin semakin banyak orang yang kehilangan selera humor dalam menghadapi hidup.
Ketiga, hidup ini harus dijalani dengan ”mentertawakan” segala hal, termasuk diri kita sendiri. ”Mentertawakan” merupakan upaya kritik diri, koreksi, dan evaluasi terhadap apa pun yang kita lakukan. Satu hal yang paling mudah dalam hidup ini: menyalahkan orang lain, dan yang sulit adalah mengakui diri salah. Filosofi keluarga Butet tersebut dapat dijadikan sebagai momentum ”mentertawakan” dalam maknanya yang luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar