Sabtu, 01 Juni 2013

SUMBER IDE


Bagian Pertama
Oleh Ngainun Naim

Beberapa hari terakhir saya membuat catatan ’agak serius’, khususnya berkaitan dengan filsafat. Model catatan semacam ini secara intelektual memuaskan saya, tetapi sering dikritik teman-teman karena sulit dipahami. Saya memaklumi kritik tersebut karena dunia filsafat itu memang dunia ide yang acapkali dinilai rumit, abstrak, tidak mudah dicerna, dan melangit.
Sebagai variasi, kali ini saya menulis persoalan yang ringan, yaitu berkaitan dengan menulis. Tema tentang menulis juga sudah cukup lama tidak saya buat. Karena itu, tulisan kali ini menjadi variasi lain yang—semoga—tidak membuat para sahabat pembaca setia tulisan saya mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Tema yang saya angkat kali ini adalah ”sumber ide”.
Menulis setiap hari tanpa jeda itu bukan pekerjaan mudah bagi saya. Kesibukan bekerja setiap hari—berangkat sekitar jam 6 pagi dan sampai di rumah malam hari—benar-benar menyita energi. Saya memanfaatkan waktu di rumah untuk bercengkerama dengan anak istri.  Kebersamaan dengan keluarga, bagi saya, menjadi sumber energi yang mendorong saya untuk meniti hidup dengan baik.
Pertanyaan yang sering saya terima berkaitan dengan aktivitas menulis saya adalah: kapan saya menulis dan darimana sumber ide menulis. Memang, saya nyaris setiap hari membuat catatan yang kemudian saya up load di FB, blog, twitter, dan beberapa media sosial lainnya. Saya juga masih menulis artikel untuk jurnal, buku, dan beberapa jenis tulisan lainnya. Karena itu—semoga ini bukan bagian dari takabbur—saya ingin berbagi cerita berkaitan dengan kedua pertanyaan yang sering saya terima tersebut.
Pertama, saya tidak memiliki waktu khusus yang saya pergunakan secara istikomah untuk menulis. Saya menulis pada setiap kesempatan yang memungkinkan. Tulisan ini, misalnya, saya buat di berbagai kesempatan. Gagasan awalnya sudah ada di kepala saya beberapa hari lalu. Saya lalu mencatat gagasan ini di HP agar tidak hilang. Begitu ada kesempatan menulisnya, saya pun mulai menuliskan judulnya dan membuat paragraf pertama. Karena catatan ini saya buat pada hari sabtu, peluang menyelesaikannya lebih luas dibandingkan dengan hari-hari lain saat saya bekerja.
Namun saat baru mendapatkan satu paragraf, kegiatan ini harus terhenti karena ada kegiatan lain yang harus saya lakukan. Bersama keluarga kami menghadiri undangan resepsi seorang famili. Pulang acara sudah siang. Saya tidur siang selama hampir dua jam karena inilah kesempatan mewah yang saya syukuri sebab tidak setiap hari saya mendapatkannya. Bangun tidur saya tidak menulis karena listri padam sejak pagi, sedangkan laptop baterai habis. Saya kemudian berolahraga naik sepeda selama kurang lebih satu jam. Pulang olahraga saya mandi, dan alhamdulillah, beberapa saat kemudian listrik menyala. Saya pun melanjutkan membuat catatan ini.
Contoh lainnya adalah tulisan saya yang berjudul ”Mental Proses Iwan Setyawan”. Tulisan itu saya buat agak cepak. Pagi hari saat menelusuri halaman demi halaman koran Jawa Pos, saya mendapatkan berita menarik tentang novelis yang sedang naik daun tersebut. Saya pun segera mengutip beberapa kalimat menarik dari Iwan. Setelah mengajar, saya mulai menuliskannya. Tetapi belum sampai selesai, harus terhenti karena kegiatan mengajar pada jam berikutnya. Dan tulisan baru selesai setelah shalat dhuhur. Jadi, tulisan yang panjangnya hanya sekitar satu halaman itu saya tulis melalui beberapa kali kesempatan. [Bersambung; Parakan, Sabtu, 1 Juni 2013].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar