Selasa, 04 Juni 2013

BANK IDE


Oleh Ngainun Naim

Tulisan ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari dua tulisan saya sebelumnya, yaitu Sumber Ide. Istilah Bank Ide ini saya pinjam dari Edy Zacques, seorang mentor menulis yang telah membesut puluhan penulis handal di Indonesia.
Di buku yang ditulisnya, Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller, Cet. III (Jakarta: Fivestars, 2008), Edy mengulas tentang pentingnya bank ide. Seorang penulis harus memiliki bank ide yang menampung ide apapun yang masuk ke dalam pikirannya. Adanya bank ide memungkinkan seorang penulis selalu memiliki bahan untuk ditulis.
Cara mengisi ‘rekening bank ide’ adalah dengan—salah satunya—rajin mencatat berbagai hal yang berhasil kita tangkap. Ketika saya membaca tulisan di koran dan menemukan informasi penting, maka informasi tersebut saya catat. Saya memiliki catatan kutipan dari tulisan atau berita di koran. Misalnya adalah catatan saya atas artikel Abdul Wahid yang berjudul, “MK di Rimba Mafia”, Jawa Pos, Kamis, 4 Nopember 2010, h. 4:
The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small=bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil. Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar atau bencana mengerikan. Kesalahan jenis apa pun, jika tidak sesegera mungkin dibetulkan, tidak hanya menyebabkan terjadinya akumulasi kesalahan, tetapi bisa pula membentuk kulturalisme dan absolutisme dalam menoleransi kejahatan.

Status di facebook yang menarik pun acapkali saya kopi. Saya yakin, suatu saat saya dapat memanfaatkannya untuk kepentingan menulis. Bahan-bahan resumen dari berbagai sumber, termasuk FB, menjadi modal penting untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya. Contoh status FB yang saya kutip adalah miliknya Alfatri Adlin yang diposting pada jum’at, 31 September 2011:
Kemarin, sewaktu berbicara berdua dengan Kang Yudi Latif, saya bertanya tentang bagaimana proses dia menulis. Maklum, saat S3 dia membuat disertasi yang tebal dan diterbitkan jadi buku berjudul "Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20" setebal 760 halaman. Lalu di tengah aktivitasnya yang seabrek, dari talk show atau komentator di TV, seminar atau studium ...generale, dan lain sebagainya, dia masih bisa menulis buku "Negara Paripurna : Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila" setebal 698 halaman. Kang Yudi menjelaskan bahwa dia mendisiplinkan diri untuk selalu menulis di pagi hari minimal dua paragraf, dan setelah satu bulan seminimalnya Kang Yudi sudah menulis sebanyak 60 paragraf. Lalu di malam hari atau di saat senggang, dia akan menyempatkan diri untuk membaca minimal satu jam. Dia bilang, satu jam membaca saja sudah bisa membuat kita menangkap ide suatu buku kalau dasar-dasar teorinya sudah kita kuasai.

Buku menjadi sumber ilmu yang paling banyak saya catat. Tentu tidak semua buku yang saya baca kemudian saya catat. Hanya buku tertentu yang—secara feeling—menarik yang kemudian saya catat poin-poin pentingnya.Karena itu, buat para sahabat sekalian, jika ingin banyak mendapatkan ide, maka mencatat apapun informasi penting yang kita peroleh sangat penting artinya. Ini artinya sama dengan ”menabung di bank ide”. Salam [Parakan, Trenggalek, Selasa Pagi, 4 Juni 2013].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar