Kamis, 19 Juli 2018

Guru dan Jurnal


Oleh Ngainun Naim

Budaya menulis di kalangan guru-guru kita tampaknya semakin menggeliat. Guru yang mau dan mampu menulis—buku, artikel, dan jenis tulisan lainnya—semakin hari semakin banyak saja. Hal ini bisa kita cermati dari status, catatan atau promosi karya mereka di berbagai tempat atau di berbagai jejaring sosial.
Tentu saja ini merupakan fenomena menggembirakan yang harus diapresiasi. Meskipun tentu belum ideal sebagaimana harapan, tetapi munculnya karya-karya pendidik ini adalah aset yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Semakin banyak guru yang menulis maka semakin bagus bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia.
Guru yang memiliki budaya literasi secara personal akan terus meningkat kualitas dirinya. Guru semacam ini pasti semakin rajin membaca dan menulis. Dan itu secara otomatis akan membuat kualitas dirinya terus tumbuh dan berkembang. Lebih lanjut, ia akan mempengaruhi—langsung atau tidak langsung—terhadap para siswanya.
Secara personal saya sangat senang jika ada guru atau sekolah yang bergiat membangun budaya literasi. Bagi saya, mendukung tumbuhnya budaya literasi adalah kerja untuk keabadian. Ucapan cepat hilang tetapi tulisan akan abadi.
Hari Selasa 3 Juli 2018, Lembaga Riset MAN 1 Tulungagung melaunching Jurnal Sosiosains Riset. Bagi saya, ini fenomena yang sangat menggembirakan. Ada gairah, asa dan harapan terkait dunia literasi guru. Saat diskusi bersama para pengelola dan guru-guru peserta seminar saya sampaikan bahwa menerbitkan jurnal itu tidak gampang, tetapi mempertahankan sebuah jurnal agar terbit secara konsisten dan bermutu itu lebih tidak mudah. Salam.

Tulungagung, 3-7-2018

Sabtu, 30 Juni 2018

GURU, BUDAYA LITERASI DAN KEMAJUAN KEHIDUPAN


Oleh Ngainun Naim
naimmas22@gmail.com



Pendahuluan
Literasi sekarang ini semakin sering disosialisasikan lewat berbagai media. Ada keyakinan yang kuat bahwa literasi adalah kunci kemajuan sebuah bangsa.[1] Berdasarkan asumsi ini maka literasi harus menjadi budaya jika bangsa Indonesia ingin maju. Tanpa budaya literasi, kemajuan rasanya berat untuk diwujudkan.
Individu yang maju hidupnya secara umum memiliki budaya literasi yang kokoh. Begitu juga dengan negara yang maju. Suparto Brata, sastrawan Jawa yang beberapa kali memperoleh Hadiah Rancage memberikan contoh negara Inggris yang maju berkat gagasan-gagasan masyarakatnya yang cemerlang. Padahal Inggris—dan negara maju lainnya—tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Gagasan cemerlang diperoleh karena orang Inggris rajin membaca dan menulis. Keyakinan Suparto Brata ini bukan hanya berbasis asumsi semata, melainkan didukung oleh data-data empiris dan juga pengalaman personalnya.[2]
Ada banyak lagi contoh pengaruh positif literasi terhadap kehidupan. Proses membaca dan menulis sesungguhnya bukan sekadar kegiatan menyerap pengetahuan, tetapi juga bagaimana mereproduksi dan merekonstruksinya sesuai konteks tertentu. Jika ini mampu dilakukan maka transformasi—individu atau sosial—bisa berlangsung secara maksimal sesuai dengan harapan.
Pengaruh literasi juga sangat kuat. Salah satu kegiatan literasi, yaitu menulis, memiliki pengaruh sangat luas dan lebih awet dibandingkan ucapan. Karya tulis bisa dibaca oleh masyarakat luas dalam rentang waktu yang lama, sementara ucapan lisan hanya diketahui dalam skala yang terbatas. Misalnya kita mendengarkan ceramah, maka hanya hadirin yang ada di tempat ceramah itu saja yang tahu, sementara mereka yang berada di lain tempat tidak mengetahuinya. Selain itu, apa yang dibicarakan dalam forum ceramah itu akan hilang begitu saja ketika acara usai. Sementara tulisan, sepanjang bentuk fisiknya masih ada, masih dapat dibaca, ditelaah, dan terus dikaji sepanjang masa.
Kita bisa belajar kepada para penulis besar dunia Islam. Salah satu contohnya adalah Imam Al-Ghazali. Kita semua tidak ada yang tahu secara pasti mengenai Al-Ghazali dan kehidupannya. Kita semua juga tidak ada yang berkenalan secara fisik dengan beliau. Beliau hidup di masa yang jauh sekali dengan kita, karena beliau telah meninggal dunia pada tahun 1111 M. Jadi, rentang waktunya memang sangat jauh dari kita. Tetapi nama Imam Al-Ghazali dan pemikirannya masih memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan umat Islam sampai sekarang ini karena—salah satu sebabnya—beliau meninggalkan karya tulis yang berlimpah. Karya tulis yang dihasilkan oleh Imam Al-Ghazali sangat bermutu. “Dia patut dianggap sebagai ulama-intelektual raksasa, bahkan oleh gurunya sendiri”.[3]
Mungkin menyebut nama Imam al-Ghazali terlalu besar dan terlalu jauh dari konteks kita sekarang ini. Kalau dalam konteks sekarang, mungkin bisa kita sebut nama novelis yang cukup terkenal, yaitu Andrea Hirata. Salah satu novel karyanya yang fenomenal, Laskar Pelangi, telah membius ratusan ribu pembaca Indonesia. Tidak hanya itu, novel tersebut ternyata memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan banyak orang. Inspirasi dari novel Laskar Pelangi ternyata tidak sebatas menghibur pembaca saja, tetapi juga mengubah kehidupan orang-orang dari berbagai latar belakang.[4]
Selain Andrea Hirata, tentu ada banyak lagi tokoh yang menebarkan pengaruh kepada masyarakat dalam skala luas karena karya-karya mereka. Sebenarnya bukan persoalan besar atau kecilnya pengaruh, tetapi yang lebih penting adalah mau dan mampu menulis sehingga tulisan yang dihasilkan dapat dibaca oleh banyak orang. Pengaruh itu sendiri sifatnya relatif dan tidak jarang di luar dugaan penulisnya.

Guru dan Budaya Menulis
Peran penting guru saya kira tidak perlu untuk diperdebatkan lagi. Semua pihak mengakui bahwa guru itu peranannya sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa guru, mustahil kita bisa berada di sini. Pada titik inilah saya kira apresiasi dan ucapan terima kasih harus kita berikan secara tulus kepada Bapak dan Ibu guru yang telah mendidik dan membimbing kita semua.
Namun demikian bukan berarti guru sudah sempurna dalam menjalankan tugasnya. Guru harus menyadari bahwa tugasnya tidak ringan. Dibutuhkan berbagai upaya agar guru bisa menjalankan tugasnya secara lebih maksimal. Jika ini mampu dilakukan maka kemajuan hidup masyarakat secara luas akan dapat terwujud.
Salah satu hal penting yang saya kira seharusnya dipikirkan oleh guru adalah membangun budaya literasi. Di era sekarang ini guru idealnya memikirkan strategi transformasi secara lebih luas. Pembelajaran di kelas memang diyakini sebagai media paling efektif dalam menyebarkan pengetahuan, wawasan, sikap dan keterampilan hidup. Persoalannya bukan pada pembelajaran itu sendiri, tetapi pada strategi implementasinya sesuai dengan konteks zaman. Pola-pola pembelajaran lama tidak bisa lagi dipatenkan tanpa perubahan. Dibutuhkan keberanian untuk menghadirkan perspektif baru yang memperkaya terhadap model dan pola lama.
Literasi adalah pilihan yang cukup efektif untuk dikembangkan. Lewat menulis, ide-ide dan gagasan seorang guru dapat tersalurkan secara luas dan lebih awet. Menulis seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi guru. Hal-hal penting—berupa pengetahuan, pengalaman atau pemikiran—dalam hidup seorang guru dapat direkam lewat tulisan. Aspek ini penting untuk direnungkan bersama karena dalam realitasnya tidak sedikit guru yang justru terbebani dengan tugas-tugas yang berkaitan dengan membaca dan menulis. Padahal, salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru, seperti kepentingan naik pangkat, berbentuk tugas menulis. Jika seorang guru paham dan menyadari terhadap hal ini, semestinya ia berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan menulis sebagai budaya.
Sekarang ini media untuk menulis sangat banyak. Selain media cetak, ada banyak media lain yang dapat digunakan oleh guru untuk menyalurkan ide dan gagasannya. Internet misalnya, menjadi media yang memungkinkan guru untuk berekspresi, menyebarkan ide, dan—dalam kerangka luas—melakukan transformasi sosial. Pengaruh sebuah tulisan ternyata jauh lebih lama, mengakar kuat, dan membangun kesadaran dalam skala yang luas.
Banyak orang yang menilai bahwa menulis itu pekerjaan yang cukup berat. Karena beratnya maka tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya sebagian kecil saja yang mampu menuangkan ide, melontarkan gagasan, dan kemudian menyelesaikan sebuah naskah sampai tuntas. Sebagian besar dari kita jarang yang mampu menulis dalam makna yang sesungguhnya. Mungkin saja ada di antara kita yang otaknya penuh dengan ide atau keinginan menulisnya begitu menggembu-gebu, tetapi kemudian tidak sampai pada aksi. Semuanya baru sebatas angan-angan.
Anda ingin bukti? Sekarang coba amati berapa orang dari guru di lingkungan kita yang aktif menulis? Saya kira baru sebagian kecil saja. Menulis dalam konteks ini ini adalah menulis yang dilakukan secara konsisten, bukan menulis secara terpaksa. Saya bahkan menyebut mereka yang memiliki tradisi menulis—termasuk guru—bisa dikategorikan sebagai "makhluk langka", karena memang mereka yang mau dan mampu menulis ternyata hanya sebagian kecil saja. Tampaknya kita memang lebih terbiasa berbicara daripada menulis.[5]

Syarat Menulis
Salah satu syarat penting menulis adalah memiliki kemauan untuk terus menulis.  Kemauan menjadi daya dorong yang sangat kokoh untuk menghasilkan karya. Orang yang memiliki kemauan yang kuat akan selalu berusaha keras untuk menulis, meskipun ada banyak hambatan dan tantangan. Ya, orang-orang semacam ini dapat menulis tentang apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Mereka biasanya berproses dan terus belajar. Kualitas tidak menjadi orientasi utama karena kualitas akan meningkat seiring dengan seringnya proses menulis. Karena itu kalau saya ditanya caranya menulis, jawabnya cuma satu; MENULISLAH sekarang juga, jangan lagi ditunda. Hal utama yang harus dibangun saat akan (dan sedang) menekuni dunia menulis adalah memompa semangat menulis, menjaga secara konsisten, tekun, rajin dan terus berusaha menulis. Semua hambatan dan halangan yang membuat sulit menulis harus dihadapi dan ditundukkan.
Sebenarnya menulis itu tidak berat asalkan kita menjadikan menulis sebagai kegiatan yang kita nikmati, kita hayati dan kita jadikan sebagai bagian tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Istilah kerennya menjadikan menulis sebagai passion. Beberapa nama yang dapat dijadikan contoh adalah: Rosihan Anwar (alm), D Zawawi Imron, Pipiet Senja, Muhidin M. Dahlan, Pramoedya Ananta Toer (alm), dan Ajib Rosidi. Mereka ini semua telah menulis puluhan buku. Bagi orang lain, menulis satu halaman saja sangat berat. Tetapi tidak bagi mereka karena mereka menulis dengan penuh kegembiraan.
Menulis sesungguhnya tidak mensyaratkan secara mutlak jenjang pendidikan tertentu. Mereka yang berpendidikan tinggi memang berpeluang besar untuk menjadi penulis karena proses pendidikan telah mengkondisikan untuk menulis. Kuliah semenjak S-1 sampai S-3 tidak bisa dipisahkan dari aktivitas menulis. Kondisi ini, jika disadari dan dijadikan sebagai sarana untuk belajar, bisa membuat seseorang memiliki tradisi menulis yang baik. Tetapi jika tidak, maka studi sampai selesai sekalipun tidak akan membuat seseorang memiliki tradisi menulis yang kokoh.
Kata kunci untuk bisa menulis adalah kemauan. Seseorang yang memiliki kemauan yang sangat kuat untuk menulis akan mampu menghasilkan karya yang bermutu, meskipun ia tidak pernah mengenyam jenjang pendidikan tinggi. Indonesia memiliki banyak penulis hebat yang termasuk dalam kategori ini. Mereka—antara lain—adalah T.M. Hasbie As-Shidieqy, Hamka, Rosihan Anwar, dan Ajib Rosidi. Di luar nama-nama tersebut, ada banyak lagi penulis besar yang mengukir sejarah kepenulisan meskipun pendidikan mereka tidak tinggi.
Ada yang berpendapat bahwa menulis itu pekerjaan yang cukup berat. Argumentasinya adalah tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Hanya sebagian kecil saja orang yang mampu menemukan ide, menyusun kalimat, dan kemudian menyelesaikannya menjadi sebuah tulisan. Sementara sebagian besar yang lainnya jarang yang mampu melakukannya. Mungkin ide mudah didapat, tetapi giliran mau menuangkannya di komputer atau kertas, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin saja ada di antara kita yang semangat menulisnya tinggi, tetapi tidak diikuti dengan aksi nyata.
Pendapat ini ada benarnya juga. Fakta menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang mau dan mampu menulis sehingga wajar jika dikatakan bahwa menulis merupakan pekerjaan yang cukup berat. Bahkan Anwar Holid menyatakan kalau menulis memang bukan pekerjaan yang mudah. Penulis muda berbakat ini menyatakan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki semangat tinggi saat ikut pelatihan menulis, tetapi begitu praktik, dia tidak lagi memiliki semangat. Ia menyerah pada rumitnya memindahkan bahasa pikiran ke tulisan. Ada juga orang yang merasa sudah putus asa sebelum mulai menulis karena merasa memang tidak berbakat.[6]
Siapa pun Anda, apa pun profesi Anda, apalagi kalau Anda berstatus mahasiswa, jika memang ingin menjadi penulis, langkah awal yang harus Anda bangun adalah membangun tekad dan kemauan keras untuk terus menulis. Jangan mudah menyerah. Teruslah menulis dan berlatih menulis sampai tulisan demi tulisan akan mampu Anda hasilkan.
Mungkin Anda bertanya, “Menulis tentang apa?”
Tulislah apa saja, mulai hal sederhana sampai hal yang paling rumit. Jangan terpaku hanya menulis makalah tugas kuliah saja. Tulislah hal-hal sederhana di sekitar, pengalaman, refleksi, dan hal apapun yang bisa ditulis. Seorang mahasiswa yang memiliki hasrat kuat menulis akan selalu berusaha untuk menulis. Saat Anda menulis, jangan pedulikan soal kualitas karena kualitas akan meningkat seiring dengan seringnya Anda menulis. Semakin sering Anda menulis maka kualitas tulisan Anda akan meningkat dengan sendirinya.
Seorang mahasiswa yang telah memiliki tradisi menulis akan mendapatkan banyak manfaat. Menurut The Liang Gie, seorang penulis prolifik yang telah menghasilkan lebih dari 50 buah buku, ada beberapa nilai yang dapat kita peroleh dari kegiatan menulis. Pertama, nilai kecerdasan. Menulis membuat seseorang terbiasa untuk berolah pikir, mencari ide baru, menganalisis kasus, dan merancang urutan pemikiran yang logis untuk dituangkan dalam tulisan. Semakin sering menulis maka otak juga semakin terasah. Implikasinya, kecerdasan yang dimiliki juga semakin terasah.
Kedua, nilai kejiwaan. Menghasilkan tulisan itu seperti sebuah perjuangan. Saat sebuah tulisan selesai dibuat, ada rasa bahagia yang memuncah. Kebahagiaan itu semakin meningkat manakala mampu dibaca banyak orang, misalnya dengan dimuat di media massa. Seorang mahasiswa yang menghasilkan karya tulis lalu berhasil menembus “blockade” redaktur sebuah media massa—apalagi apalagi media massa besar dan terkenal– pasti akan merasakan kepuasan, kelegaan, kegembiraan, dan kebanggaan. Pada gilirannya dia akan lebih percaya diri. Penulis itu harus percaya diri. Jangan takut tidak dimuat dan seterusnya, karena tugas penulis adalah menulis. Soal kualitas bisa sambil jalan seiring kemauan Anda untuk terus berlatih, menulis, dan menulis.
Ketiga, nilai sosial. Seorang penulis yang telah berhasil menenggerkan karya tulisnya di media massa, baik lokal maupun nasional, namanya akan semakin dikenal oleh publik. Wajar jika ada banyak penghargaan, kritik, dan juga komentar ytang memiliki arti dan makna signifikan dalam pengembangan karier kepenulisan. Sebuah karya tulis yang dibuat oleh seorang mahasiswa yang kemudian dipublikasikan, baik lewat media massa atau internet, akan mendapatkan nilai sosial yang signifikan. Nilai sosial penting artinya bagi seseorang.
Keempat, nilai pendidikan. Menulis yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun kadang tidak disadari, sesungguhnya mengandung nilai pendidikan. Nilai pendidikan sebuah tulisan itu bermanfaat untuk penulis sendiri dan juga untuk orang lain. Mendidik diri sendiri terjadi manakala kita dipaksa untuk membuka kamus, membaca buku, mengingat kembali berita atau tulisan dan seterusnya. Sedang mendidik orang lain terjadi manakala mereka membaca hasil tulisan kita.
Kelima, nilai keuangan. Menulis itu menghasilkan. Karya tulis dalam bentuk apapun di media massa, biasanya dihargai dengan rupiah. Ada yang nominalnya besar, sedang, kecil, atau bahkan tidak dikasih honor. Tetapi sebenarnya menekuni dunia menulis secara sungguh-sungguh dapat memberikan keuntungan material secara memadai atau cukup. Hanya memang ukuran cukup itu sendiri relatif.
Keenam,  nilai filosofis. Menulis memiliki makna yang mendalam berkaitan dengan beragam bidang kehidupan. Sebuah tulisan pada dasarnya mencerminkan nilai yang dianut oleh seseorang. Karena itulah seorang mahasiswa sebaiknya berpikir secara mendalam mengenai nilai filosofis tulisan yang ia buat.[7]
Setelah memahami enam nilai tersebut, seorang mahasiswa sebaiknya berusaha keras untuk membangun kreativitas dalam menulis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘kreatif’ diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan konteks. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan proses kreatif adalah proses mencipta tulisan atau menulis, baik itu tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatannya, menjadi penulis diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis. Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki dorongan yang kuat untuk  menulis (the strong will to write) atau ‘lapar menulis' (tidak sekadar haus).
Agar tulisan yang kita hasilkan bermutu, kita harus memiliki tradisi membaca yang baik. Hernowo dalam buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza menyatakan bahwa bacaan yang baik akan membuat tulisan yang kita buat semakin bermutu. Penulis yang baik berarti juga pembaca yang baik. Kalau Anda memang berniat serius menulis, selain memiliki semangat—sebagaimana telah diuraikan di bagian awal tulisan ini—Anda juga harus rajin membaca. Bacalah apa saja agar wawasan dan pengetahuan Anda semakin luas. Banyaknya bacaan akan memudahkan Anda menangkap ide, mengembangkan tulisan, dan menambah bobot tulisan Anda.
Secara lebih tegas Hernowo menulis:

...menulis dalam pandangan saya merupakan sebuah aktivitas yang sangat luas dan sangat bermanfaat bagi pengembangan diri. Menulis, menurut saya, juga mencakup kegiatan lain yang sangat penting, seperti menerjemahkan dan menyunting sebuah buku. Menerjemahkan adalah sebuah aktivitas yang harus disertai oleh membaca dan menuliskan (merumuskan) sesuatu. Menyunting pun demikian. Menyunting adalah aktivitas yang melengkapi atau bahkan, bisa jadi, menyempurnakan penerjemahan. Aktivitas ini juga harus disertai oleh pembacaan tingkat tinggi dan juga merumuskan-kembali apa-apa yang telah dirumuskan oleh penerjemah. [8]

Selain itu, aspek teknis yang harus dipahami adalah proses kreatif. Untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif, yaitu dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan tulisan. Ide bisa diperoleh setiap saat dan kapan saja. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan, perjalanan (traveling), kontemplasi,  konflik dengan diri sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external), pemberontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu), kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi, dan sebagainya. Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis (the strong will to write).
Modal lainnya adalah berkomitmen disertai disiplin untuk menulis. Jika memang serius ingin bisa menulis, Anda harus memiliki jadwal yang ditaati. Selain itu juga rajin mengumpulkan ide-ide yang akan ditulis. Sayangnya, kadang kegiatan rutin yang wajib kita kerjakan membuat kegiatan menulis jadi tertunda atau terbengkalai sehingga tulisan tidak pernah selesai. Untuk mensiasatinya, maka perlu menulis di pagi hari (dini hari) atau malam (hingga larut malam, menjelang pagi). Baik juga memanfaatkan waktu luang pada akhir pekan atau hari libur. Yang penting, ada waktu khususnya untuk memberi ‘ruang’ proses kreatif yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan (karya nyata).  Tetapi sekali lagi, kuncinya ada pada Anda. Jadi, tunggu apalagi. Jika memang mau menulis, segera tulis saja dan jangan menyerah dengan hambatan.
Tulisan demi tulisan yang dihasilkan oleh seorang guru, apalagi jika dipublikasikan secara luas, pada dasarnya memiliki peran transformatif. Peran ini terlihat secara nyata pada tumbuhnya pengetahuan, wawasan dan kesadaran dari orang yang membaca. Pada perspektif inilah selayaknya seorang guru membangun tradisi menulis secara kokoh agar mampu melakukan transformasi sosial secara konstruktif.


Kemajuan Hidup
Guru yang mau menulis hampir pasti hidupnya akan maju. Kemajuan ini dicapai karena guru yang menulis itu pasti akan rajin membaca. Seorang penulis adalah seorang pembaca. Akumulasi bacaan demi bacaan kemudian direproduksi menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat. Pada titik inilah sesungguhnya guru yang mau menulis akan dapat mengalami kemajuan hidup.
Menulis itu—sebagaimana paparan di atas—banyak sekali manfaatnya. Menulis tidak harus diterbitkan. Menulis sendiri, jika dilakukan secara konsisten, akan memberikan manfaat kepada penulisnya. Karena itu, idealnya seorang guru membudayakan menulis. Minimal menulis untuk dirinya sendiri.
Budaya literasi memang harus terus digelorakan. Semakin banyak yang memiliki budaya literasi akan semakin bagus bagi kemajuan hidup. Tradisi literasi juga mengikis budaya copy paste yang semakin hari semakin mewabah. Realitas plagiasi harus terus diminimalisir lewat berbagai langkah. Salah satunya melalui tumbuhnya budaya literasi.
Pada titik inilah, langkah-langkah strategis dalam membangun budaya literasi harus didukung. Jika ini konsisten dilakukan maka dalam jangka panjang kita akan memiliki budaya literasi yang semakin kokoh. Semoga.


[1] Hildawati Almah, “Information Literacy: Kecakapan Hidup dalam Era Postmodern”, Jurnal Iqro’, Vol. 4, No. 01, 26.
[2] Suparto Brata, Ubah Takdir Lewar Baca dan Tulis Buku, Surabaya: LMC, 2011, 45.
[3] Abdul Kadir Riyadi, Arkeologi Tasawuf, Melacak Jejak Pemikiran Tasawuf dari Al-Muhasibi hingga Tasawuf Nusantara, (Bandung: Mizan, 2016), h. 154.
[4] Mereka yang hidupnya mengalami transformasi setelah membaca novel Laskar Pelangi ternyata sangat banyak. Sebuah buku yang mengulas tentang hal ini ditulis oleh Asrori S. Karni, Laskar Pelangi, The Phenomenon, (Jakarta: Hikmah, 2008).
[5] Saya telah menulis tentang persoalan ini di buku saya, The Power of Writing, (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2015), h. 58-60.
[6] Anwar Holid, Keep Your Hand Moving, (Jakarta: Gramedia, 2010), h. xvi-xvii.
[7] The Liang Gie, Terampil Mengarang, (Yogyakarta: Andi, 2002), h. 19-20.
[8] Hernowo, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Rangsangan Baru untuk Melejitkan “Word Smart”, (Bandung: Kaifa, 2003), h. 87.